Tuesday, November 3, 2009

Ciri-ciri Orang Kaya

Manusia sejatinya adalah manusia spiritual, maka orang kaya dalam arti sebenarnya adalah orang yang kaya secara spiritual. Orang seperti ini akan membawa kekayaannya ke manapun ia pergi dan menuju.

4 Ciri orang kaya:
1. Orang kaya adalah orang yang selalu merasa cukup. Ia tidak memiliki banyak kebutuhan. Berapapun banyaknya harta yang ia miliki, orang yang tercerahkan ini senantiasa hidup sederhana. Ia menggunakan barang kebutuhannya secukupnya saja, tidak lagi terobsesi memiliki barang lagi, hanya memiliki barang yang benar-benar ia butuhkan. Orang kaya adalah orang yang sederhana dan tak menumpuk barang. Hanya orang miskin yang menumpuk barang dan bangga dengan hal itu.

2. Orang kaya adalah orang yang memiliki tetapi tidak dimiliki. Artinya orang kaya menjadi tuan terhadap barang yang ia miliki, dan bukan menjadi budak dari barang yang ia miliki. Seolah-olah bila tidak mendapatkan barang tersebut, maka menjadi tidak bahagia. Hakekatnya ketika kita memiliki sesuatu maka kita meletakkan pada sesuatu itu, sehingga apabila barang tersebut hilang atau telah tidak ada, apakah harga diri juga akan hilang ?.

3. Orang kaya adalah orang yang selalu memberi. Ini yang membedakan dari orang miskin yang selalu meminta. Orang kaya sejatinya adalah mereka yang selalu siap untuk memberi apapun yang dimiliki: uang, perhatian, tenaga, pikiran dan sebagainya. Mereka mampu memberi karena mereka memiliki daya spiritual yang berlimpah.

4. Orang kaya adalah orang yang memiliki banyak cinta. Berbeda dengan orang miskin yang selalu diliputi ketakutan. Orang kaya memiliki cinta yang berlebih karena kedekatannya dengan Allah, karena itu orang kaya senantiasa berbagi cinta dan energy kepada siapa saja.

Source: Majalah SWA No. 22/XXV 2009

Thursday, October 22, 2009

Emotional Branding (Pembentukan merek dengan nuansa emosional) - 2

Judul tersebut diambil dari judul buku “Emotional branding: paradigma untuk menghubungkan merek dengan pelanggan buku”, penulis: Marc Gobe, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2005, dengan alih bahasa: Bayu Mahendra. 332 halaman termasuk indeks, ditambah 37 halaman pendahuluan.

“Dewasa ini, saya merasa pendekatan Emotional Branding merupakan elemen penentu yang sangat penting yang membedakan merek yang sukses dengan merek yang biasa di pasar. Namun hanya sedikit perusahaan yang memahami seni menilai - dengan kecerdasan dan kepekaan - kekuatan sejati di balik emosi manusia. Emotional Branding memberikan lapisan kredibilitas dan kepribadian yang baru pada sebuah merek, dengan menghubungkan merek dengan orang-orang pada tatanan pribadi dan holistic. Emotional Branding didasarkan pada rasa percaya yang unik yang terjalin erat dengan sebuah audiens. Pendekatan ini meningkatkan pembelian yang hanya sekedar dipicu oleh kebutuhan menjadi pembelian yang muncul dalam hasrat. Komitmen pada sebuah produk atau intuisi, kebanggaan yang kita rasakan saat menerima hadiah yang cantik dari merek yang kita senangi atau pengalaman berbelanja yang positif dalam sebuah lingkungan yang menakjubkan ketika seseorang mengetahui nama kita atau membawakan secangkir kopi untuk memberikan kita kejutan yang menyenangkan - perasaan-perasaan ini merupakan inti dari Emotional Branding” (Marc Gobe, Emotional Branding, www,emotionalbranding.com)

Emotional Branding merupakan elemen penentu yang sangat penting yang membedakan merek yang sukses dengan merek biasa di pasar. Emotional Branding memberikan lapisan kredibilitas dan kepribadian yang baru pada sebuah merek, dengan menghubungkan merek dengan orang-orang pada tataran pribadi dan holistic. Emotional Branding didasarkan pada rasa percaya yang unik yang terjalin erat dengan sebuah audiens. Pendekatan ini meningkatkan pembelian yang hanya sekedar dipicu oleh kebutuhan menjadi pembelian yang muncul dari alam hasrat. Strategi merek yang yang terintegrasi merupakan jantung dari emotional branding.

Tujuan emotional branding adalah melahirkan desain merek yang dapat membuat jantung pelanggan berdetak lebih cepat – menciptakan desain yang didasarkan pada pengalaman sensorial dan pemahaman atas keinginan emosional yang paling dalam. Emotional branding didasarkan pada kepercayaan unik yang dibangun bersama audensi. Emotional branding meningkatkan penjualan atas dasar kebutuhan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Emotional branding terkait dengan membangun hubungan dengan pelanggan yaitu memberikan nilai jangka panjang pada merek dan produk, terkait dengan pengalaman inderawi, desain yang membuat consumer merasakan produk, desain yang membuat consumer membeli produk.

Salah satu bentuk Emotional Branding adalah dalam kemasan (packaging), sebagai komponen utama desain merek. Menurut Marc, kemasan bukan sekedar warna-warna dan desain-desain tradisional melainkan untuk mengkomunikasikan esensi prouk demi mendapatkan hubungan yang bersifat emosional dengan pelanggan. Hal ini karena desain merek dalam pengemasan adalah bagian vital dalam pemasaran. Desain merek harus dapat menerjemahkan makna dari merek kepada pelanggan kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu tugas para desainer adalah menjadi duta antara perusahaan dan pasar, peran penghubung yang menciptakan bahasa dari keindahan dan emosi.

Emotional branding bukan sekedar proses atau teknik riset, melainkan didasarkan pada hubungan antara manusia yang lebih dari sekedar data dan grafik. Ini adalah budaya dan cara hidup; keyakinan fundamental bahwa manusia adalah kekuatan sesungguhnya dalam perdagangan.

Dalam buku tersebut berisi diskusi dan analisa perubajan-perubahan demografis serta munculnya budaya baru yang kuat dan tidak bisa dihindari dalam sebuah pasar revolusioner. Dijelaskan pula bagaimana pemimpin dalam “perekonomian yang dibentuk atas dasar emosi” yang ada pada saat ini, di mana visi mereka menjadikan lingkungan kita sekarang menjadi lebih menyenangkan, lebih menarik dan dapat memberikan lebih pada kita semua. Di bagian akhir, penulis mengungkapkan sejumlah penelitian dan teknik riset rahasia yang penulis miliki selama ini.